- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Profesi Jurnalis atau Wartawan diatur dalam Undang-undang (UU) No. 40/1999 tentang Pers dan menta’ati Kode Etik Jurnalis (KEJ).
Juga diperkuat dengan Nota Kesefahaman antara Dewan Pers (DP) – POLRI yang diperbaharui pada Februari 2017 lalu.
Segala bentuk penghinaan atau pelecehan terhadap profesi termasuk profesi Jurnalis/Wartawan menurut UU manapun tidak dibenarkan.
Akibat sikap arogansi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab sering Insan Pers mendapat perlakuan kasar baik secara fisik maupun psikis.
“Jangan hina profesi Jurnalis,” kata sesepuh dan senior Pers.
Sejarah membuktikan, bahwa ayah sang Jenderal yang saat ini ada di pucuk kepemimpinan Polri juga berprofesi sebagai Wartawan.
Achmad Gafar (78) masih ingat masa-masa dia bersekolah tingkat dasar di kawasan Tangga Buntung, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), seperti dilansir News Investigasi 29 Januari 2019.
Kala itu, dia mengenang nama Achmad Saleh kawan sebangkunya di sekolah tersebut. Pendidikan di era tahun 40-an dipengaruhi gaya Belanda, masih terekam dalam ingatan pria kelahiran Mei 1939 ini. Namun, ilmu-ilmu Agama sangat kuat ditanamkan orang tua dan guru-guru mereka di Sekolah.
“Saya ingat Achmad Saleh, teman sekolah waktu Sekolah Dasar (SD),” ujar Achmad Gafar, warga Pangkal Pinang belum lama ini. Karena itu, dulu guru-guru memanggil mereka dengan sebutan Saleh atau Gafar saja.
Belakangan, Achmad Gafar baru mengetahui, salah seorang anak Achmad Saleh yakni Tito Karnavian, adalah seorang Jenderal Polisi yang kini menjabat Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) juga sempat mengenang bahwa Achmad Saleh yang meninggal dunia pada Kamis (27/Okt/2016) tahun lalu adalah seorang Wartawan di Radio Republik Indonesia (RRI). Istri Achmad Saleh bernama Kordiah adalah seorang Bidan.
Berkali-kali dalam berbagai kesempatan wawancara, almarhum Achmad Saleh mengungkapkan kebanggaannya sebagai Wartawan. Dia mengaku hanya sebagai Wartawan biasa yang mendukung cita-cita dan keinginan anak-anaknya.
Berkat kegigihan dan ketekunan serta keikhlasannya sebagai ortu, kini anak-anak Achmad Saleh sukses dalam bidangnya masing-masing.
Anak pertama Profesor DR. Diah Natalisa, MBA, pernah menjabat sebagai Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah II.
Dia kuliah di S1 di Universitas Sriwijaya, beasiswa S2 di School of Business & Economics University of Kentucky dan S3 Universitas Airlangga di Surabaya.
Anak ke-dua Tito Karnavian, lulusan Akademi ABRI (Kepolisian) pada 1987.
Sebelum memutuskan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), Tito sempat lulus tes di Kedokteran di Universitas Sriwijaya, Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).
Tito juga menyelesaikan Master of Arts (MA) in Police Studies, University of Exeter, UK (1993), Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK ) 1996, Royal New Zealand Air Force Command & Staff College, Auckland, New Zealand (Sesko) 1998, Bachelor of Arts (BA) in Strategic Studies, Massey University, New Zealand (1998), Sekolah Staf Pimpinan Polisi (Sespimpol), Lembang (2000), Ph.D in Strategic Studies with Interest on Terrorism and Islamist Radicalization at S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapore (magna cum laude) dan yang terakhir yaitu Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XVII (2011).
Anak ke-tiga Achmad Saleh, Dr. Iwan Dakota. SpJP (K).
Lalu anak ke-empatnya Dr. Fifa Argentina, SpKK, bertugas di Rumah Sakit (RS) Siti Khodijah.
Achmad Saleh menuturkan profesi di bidang Jurnalistik menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk membiayai Sekolah Tito, hingga meraih jabatan tertinggi di Kepolisian.
Ia menggeluti dunia kewartawanan sejak awal 1960-an di Radio Republik Infonesia (RRI).
Selanjutnya, ia membidangi pendirian Koran Ekonomi Pembangunan, Pelita dan Koran Angkatan Bersenjata edisi Sriwijaya.
“Saya pernah mendirikan Koran terbitan Palembang,” katanya, saat ditemui di kediamannya, di Jalan Sambu, Palembang, Jum’at (17/Jun/2016) silam.
Sementara, menurut Leo Batubara, sesepuh dan juga mantan Ketua DP Indonesia, ketika dihubungi awak media menyampaikan terkait adanya penghinaan profesi Jurnalis.
”Tugas Wartawan itu sudah diatur menurut UU No. 40/1999, jelas itu, Wartawan dilindungi UU,,” kata Leo, dengan tegas.
”Jika ada ketidak senangan dengan Wartawan, adukan saja ke DP, biar DP yang menertibkan,” tambah Leo.
Polri dan DP sudah membuat kesepakatan yang tertera dalam Nota Kesefahaman, agar bersinergi satu sama lain dan saling mengisi dalam melaksanakan tugas di lapangan.
Juga diperkuat dengan Nota Kesefahaman antara Dewan Pers (DP) – POLRI yang diperbaharui pada Februari 2017 lalu.
Segala bentuk penghinaan atau pelecehan terhadap profesi termasuk profesi Jurnalis/Wartawan menurut UU manapun tidak dibenarkan.
Akibat sikap arogansi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab sering Insan Pers mendapat perlakuan kasar baik secara fisik maupun psikis.
“Jangan hina profesi Jurnalis,” kata sesepuh dan senior Pers.
Sejarah membuktikan, bahwa ayah sang Jenderal yang saat ini ada di pucuk kepemimpinan Polri juga berprofesi sebagai Wartawan.
Achmad Gafar (78) masih ingat masa-masa dia bersekolah tingkat dasar di kawasan Tangga Buntung, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), seperti dilansir News Investigasi 29 Januari 2019.
Kala itu, dia mengenang nama Achmad Saleh kawan sebangkunya di sekolah tersebut. Pendidikan di era tahun 40-an dipengaruhi gaya Belanda, masih terekam dalam ingatan pria kelahiran Mei 1939 ini. Namun, ilmu-ilmu Agama sangat kuat ditanamkan orang tua dan guru-guru mereka di Sekolah.
“Saya ingat Achmad Saleh, teman sekolah waktu Sekolah Dasar (SD),” ujar Achmad Gafar, warga Pangkal Pinang belum lama ini. Karena itu, dulu guru-guru memanggil mereka dengan sebutan Saleh atau Gafar saja.
Belakangan, Achmad Gafar baru mengetahui, salah seorang anak Achmad Saleh yakni Tito Karnavian, adalah seorang Jenderal Polisi yang kini menjabat Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) juga sempat mengenang bahwa Achmad Saleh yang meninggal dunia pada Kamis (27/Okt/2016) tahun lalu adalah seorang Wartawan di Radio Republik Indonesia (RRI). Istri Achmad Saleh bernama Kordiah adalah seorang Bidan.
Berkali-kali dalam berbagai kesempatan wawancara, almarhum Achmad Saleh mengungkapkan kebanggaannya sebagai Wartawan. Dia mengaku hanya sebagai Wartawan biasa yang mendukung cita-cita dan keinginan anak-anaknya.
Berkat kegigihan dan ketekunan serta keikhlasannya sebagai ortu, kini anak-anak Achmad Saleh sukses dalam bidangnya masing-masing.
Anak pertama Profesor DR. Diah Natalisa, MBA, pernah menjabat sebagai Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah II.
Dia kuliah di S1 di Universitas Sriwijaya, beasiswa S2 di School of Business & Economics University of Kentucky dan S3 Universitas Airlangga di Surabaya.
Anak ke-dua Tito Karnavian, lulusan Akademi ABRI (Kepolisian) pada 1987.
Sebelum memutuskan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), Tito sempat lulus tes di Kedokteran di Universitas Sriwijaya, Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).
Tito juga menyelesaikan Master of Arts (MA) in Police Studies, University of Exeter, UK (1993), Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK ) 1996, Royal New Zealand Air Force Command & Staff College, Auckland, New Zealand (Sesko) 1998, Bachelor of Arts (BA) in Strategic Studies, Massey University, New Zealand (1998), Sekolah Staf Pimpinan Polisi (Sespimpol), Lembang (2000), Ph.D in Strategic Studies with Interest on Terrorism and Islamist Radicalization at S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapore (magna cum laude) dan yang terakhir yaitu Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XVII (2011).
Anak ke-tiga Achmad Saleh, Dr. Iwan Dakota. SpJP (K).
Lalu anak ke-empatnya Dr. Fifa Argentina, SpKK, bertugas di Rumah Sakit (RS) Siti Khodijah.
Achmad Saleh menuturkan profesi di bidang Jurnalistik menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk membiayai Sekolah Tito, hingga meraih jabatan tertinggi di Kepolisian.
Ia menggeluti dunia kewartawanan sejak awal 1960-an di Radio Republik Infonesia (RRI).
Selanjutnya, ia membidangi pendirian Koran Ekonomi Pembangunan, Pelita dan Koran Angkatan Bersenjata edisi Sriwijaya.
“Saya pernah mendirikan Koran terbitan Palembang,” katanya, saat ditemui di kediamannya, di Jalan Sambu, Palembang, Jum’at (17/Jun/2016) silam.
Sementara, menurut Leo Batubara, sesepuh dan juga mantan Ketua DP Indonesia, ketika dihubungi awak media menyampaikan terkait adanya penghinaan profesi Jurnalis.
”Tugas Wartawan itu sudah diatur menurut UU No. 40/1999, jelas itu, Wartawan dilindungi UU,,” kata Leo, dengan tegas.
”Jika ada ketidak senangan dengan Wartawan, adukan saja ke DP, biar DP yang menertibkan,” tambah Leo.
Polri dan DP sudah membuat kesepakatan yang tertera dalam Nota Kesefahaman, agar bersinergi satu sama lain dan saling mengisi dalam melaksanakan tugas di lapangan.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar